Home | Profile | News | Articles | Nyantrik | Agenda | Testimonial | Gallery | MP3 | Naskah | Guestbook | Contact | Sanggar Bima
Pagelaran Ki Nartosabdho - Ki Manteb, Serasa Pertunjukan Drama PDF Print E-mail
Thursday, 13 May 2010 16:01
There are no translations available.

Kapanlagi.com - Kolaborasi pagelaran wayang kulit dari suara asli Ki Nartosabdho (alm) yang sebelumnya telah direkam dan Ki Manteb Soedharsono, di Gedung Kesenian Jakarta, Kamis (10/5) malam, merupakan pertemuan sepanggung 'guru dan murid', yang kompak, mulus dan cantik.

Ki Nartosabdho yang wafat pada 7 Oktober 1985, malam itu mendendangkan kembali suluk magis, antawacana (dialog), tembang, dan gending terbaiknya. Sementara sang murid, Ki Manteb Soedharsono, melengkapi dengan 'sabetan' bertenaga.


Iringan gending karya sang maestro, seperti Mubeng Desa, Ibu Pertiwi, Lelagon Simpang Lima yang menggema hingga menembus relung-relung GKJ, menambah dahsyat dan renyah tontonan itu.

"Pagelaran ini kami persembahkan buat Ki Nartosabdho, sebagai bukti bakti dan cinta kami kepada Sang Maestro," ujar Ki Manteb.

Dalam pagelaran berdurasi 90 menit, yang disaksikan mantan Presiden Abdurrahman Wahid, Ki Nartosabdho dan Ki Manteb Soedharsono menampilkan dramaturgi pakeliran menjadi padat, langsung pada persoalan, tidak bertele-tele.

"Seharusnya beginilah pertunjukan wayang. Menghibur dan teatrikal, serasa menonton pertunjukan drama," kata salah seorang penonton, Ririn Datoek.

Ki Nartosabdho adalah pembaharu pakeliran wayang purwa. Dialah yang membuat jagad pewayangan Nusantara menjadi semarak dan dinamis.

Ki Nartosabdho melabrak pakem pakeliran keraton yang kaku, formal dan dingin, dengan memasukkan banyolan pada semua adegan. Jika pada pakeliran konvensional, banyolan hanya boleh dimainkan pada segmen 'goro-goro', Ki Nartosabdho telah mbayol pada saat jejer, antawecana resmi di paseban agung keraton, yang harusnya formal, penuh tatakrama dan menggunakan krama inggil yang mbulet.

Inovasi Ki Nartosabdho lantas mengundang kritikan pedas. "Ia dituduh merusak pakem pakeliran, namun ia berkilah 'inilah gaya pakeliran Nusantara'," tambah Ki Manteb.

"Dulu, gaya pedalangan juga terfragmentasi dalam pakem gaya Yogyakartan, Surakartan dan Banyumasan. Ki Nartosabdho memadukannya menjadi gaya Nusantara yang lebih fleksibel," ujarnya.

Ki Nartosabdho yang semasa hidupnya telah mencipta 816 gending itu, juga merupakan dalang yang piawai melakukan 'kontekstualisasi' lakon dengan dinamika politik dan sosial kekinian. Gaya ini pula yang akhirnya banyak ditiru dalang-dalang masa kini.

Ki Nartosabdho juga berani melakukan pembaruan teknik perceritaan dan cara pagelaran, hingga melahirkan carangan (fragmen) cerita yang semakin memperkaya 'babon' kitab Ramayana dan Mahabarata, pakem dasar pekeliran wayang di Indonesia. (*/boo)

 

 

Co-Management

PANGLIMA arts management

c.p HONGGGO UTOMO

Hunting: +62 821 4131 9468
+62 85 7080 70 777
Office :  +62 351 438720

E-mail :
honggo.othernight@gmail.com
pang5arts@yahoo.co.id

 

Banner

Agenda

There are no events at this time

Testimonial

nina wahyu
Date: May 14, 2010


SELAMAT, SEMOGA SUKSES SELALU..
Banner
Banner