Home | Profile | News | Articles | Nyantrik | Agenda | Testimonial | Gallery | MP3 | Naskah | Guestbook | Contact | Sanggar Bima
Kerinduan Sabetan "Dalang Setan" Manteb PDF Print E-mail
Monday, 02 August 2010 07:24
There are no translations available.

KOMPAS.com- Satu hal yang membuat Pentas Wayang Semalam Suntuk di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (30/7) malam hingga Sabtu dini hari ini dipadati pengunjung. Yakni kerinduan banyak orang akan sabetan dalang Ki H Manteb Soedharsono, yang dijuluki “Dalang Setan”.

Bagi sejumlah pengunjung, menyaksikan dalang wayang kulit purwa kelahiran Sukoharjo, 1948 ini, merupakan kesempatan langka.

“Banyak yang menjadi daya tarik dari pementasan wayang kulit purwa dalang Ki H Manteb Soedharsono, terutama kehebatan dan kecepatan sang dalang ini memainkan wayang. Sabetannya luar biasa,” kata Wagiono Sanjoyo, seorang penonton, yang tampak serius mengamati permainan sang dalang.

Lakon yang dipentaskan Ki H Manteb malam ini adalah “Gathutkoco Winisudho”. Dalam lakon itu dikisahkan bahwa berhubung anak sulung raja Pringgandani adalah perempuan, yaitu Dewi Arimbi (istri Bima), maka yang berhak menduduki kerajan adalah putra Arimbi yaitu Gathutkaca.

Hal ini membuat pamannya Gathutkaca, Brajamusti merasa iri dan dengki, hingga akhirnya terjadilah perperangan, dan kedua pamannya tewas di tangan Gathutkoco. Sedangkan Parikesit  menjadi raja di Astinapura seusai perang Barata Yudha.

Sementara itu Kurawa yang berjumlah 100 orang tewas semua di “Padang Setra” ketika melawan Pandawa. Dengan bertahtanya Parikesit di Astinapura, berarti kembalinya Astinapura ke ahli waris yang sebenarnya.

Ki Manteb yang belajar mendalang dari ayahnya dan pentas di depan umum pada usia 12 tahun, pada pertunjukan malam ini yang dimulai pukul 20.00 WIB, sementara Ki Manteb mulai mendalang pukul 21.15 WIB, tampil  piawai memainkan boneka wayang engan banyak variasi.

“Kalau sedang memainkan trik sabetan dengan cepat dan terampil layaknya sebagai tukang sulap, tukang sihir. Padahal, itu hanya semata kecepatan gerak tangan dan mengalihkan perhatian penonton,” kata Suparman, penggemar dalang Ki H Manteb.

Menurut sejumlah penonton, dalang peraih penghargaan Unesco Award tahun 2004, dan pentas di markas besar Unesco di Paris, Perancis, itu tidak saja lincah dalam sabetannya, tetapi juga hebat dan penuh perhitungan dalam mendesain wayang-wayangnya. Semuanya harus tepat dalam presisi ukuran dan rasa kemantapan seni yang tepat dan lengkap.

“Pokoknya, menonton pertunjukan wayang dengan dalang Ki Manteb, saya tak puas-puasnya. Ingin selalu menonton, walau lakon yang ditampilkan kadang sudah pernah ditonton sebelumnya,” papar Moestopo, pengunjung lainnya.

Keramaian penonton pentas wayang, dimanfaatkan pedagang menjual pernik-pernik wayang. Ada VCD cerita wayang, baju kaos dengan bordir/sablon tokoh-tokoh wayang.

Banyak juga pengunjung yang berbelanja, untuk kenang-kenangan dan juga sebagai ungkapan rasa cinta terhadap kekhayaan khasanah budaya bangsa kita. Dan wayang sudah menjadi warisan dunia, yang membuat kita, ban

 

Co-Management

PANGLIMA arts management

c.p HONGGGO UTOMO

Hunting: +62 821 4131 9468
+62 85 7080 70 777
Office :  +62 351 438720

E-mail :
honggo.othernight@gmail.com
pang5arts@yahoo.co.id

 

Banner

Agenda

There are no events at this time

Testimonial

nina wahyu
Date: May 14, 2010


SELAMAT, SEMOGA SUKSES SELALU..
Banner
Banner