Depan | Profil | Berita | Artikel | Nyantrik | Agenda | Testimoni | Galeri Foto | MP3 | Naskah | Buku Tamu | Kontak | Sanggar Bima
Pidato KI MANTEB SOEDHARSONO dalam Upacara penganugerah Penghargaan NIKKEI ASIA yang ke 15 PDF Cetak Surel
Jumat, 14 May 2010 22:09

Yang terhormat Pimpinan Surat Kabar Nikkei, dan
Para hadirin yang saya muliakan.

Sudah tiga kali saya berkunjung ke Jepang, bersua dengan sahabat-sahabat saya pencinta wayang kulit Purwa. Hari ini, atas kebaikan hati Surat Kabar Nikkei,  untuk keempat kalinya saya bertandang kesini, guna menerima Penghargaan Nikkei Asia yang ke 15 tahun 2010. Sungguh, saya tidak pernah bermimpi mendapatkan penghargaan ini, apalagi mendapat kesempatan berbicara didepan tokoh-tokoh terhormat dan terpilih. Saya sungguh bersyukur dan merasa tersanjung. Mengapa? Pertama, penghargaan ini datang dari sebuah surat kabar yang sangat bergengsi dan berwibawa, tidak hanya di Jepang, tetapi dunia telah mengakuinya. Kedua, walau saya bukanlah orang Indonesia pertama yang menerima Penghargaan Nikkei Asia, tetapi saya adalah Dalang pertama yang memperoleh anugerah ini, setelah lebih dari lima puluh tahun berprofesi sebagai Dalang Wayang Kulit Purwa.
Oleh karena itu, kepada Pimpinan, wartawan, karyawan, dan  seluruh pembaca surat kabar Nikkei, baik yang berbahasa Jepang maupun yang berbahasa Inggris, dari lubuk hati yang paling dalam, atas nama pribadi dan keluarga, dan atas nama jagad pewayangan Indonesia, saya menyampaikan terima kasih, terima kasih dan sekali lagi terima kasih yang tak terhingga. Arigato, arigato, arigato gozaimasu.


Para hadirin yang budiman,

Wayang adalah bayangan. Bayangan itu “ada” dan “nyata”, walau tak teraba. Bagi kami, “wayang” adalah “bayangan hidup manusia”, sejak “menjadi” sampai dengan “berakhirnya”. Oleh para pendahulu kami, para pencipta wayang, bayangan hidup manusia telah diyakini dan dinyatakan sebagai “simbul kehidupan manusia”. Dalam kalimat yang lebih sederhana, Wayang adalah Simbul Hidup Manusia. Apa artinya? Artinya, watak, sifat dan perilaku setiap tokoh wayang, adalah simbul kehidupan setiap orang.
Contoh: Watak, sifat dan perilaku Rama Wijaya (Seri Ramayana) yang bijaksana, pasti akan dimiliki oleh setiap orang tanpa kecuali. Demikian pula watak, sifat dan perilaku Duryudana (Seri Mahabarata) yang loba, juga akan dimiliki oleh setiap orang tanpa kecuali. Dengan demikian, watak, sifat dan perilaku sesorang bukanlah tunggal, tetapi multi dimensi.
Nilai-nilai seperti inilah yang menyebabkan, pada tahun 2003, Wayang Indonesia diproklamirkan oleh UNESCO menjadi Karya Agung Warisan Budaya Tak Benda (Masterpeace of  the Oral and Intangible Heritage of Humanity). Saya merasa beruntung dan berterima kasih, satu tahun kemudian, tanggal20 April 2004, saya telah dipilih untuk menggelar wayang kulit Purwa di Markas Besar UNESCO di Paris, dalam Upacara Penyerahan Penghargaan tersebut kepada Pewayangan Indonesia, yang diwakili oleh Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia – SENA WANGI.

Hadirin yang terhormat

Pergelaran wayang di Indonesia,  walau termasuk seni pertunjukan tradisional, yang biasanya terdesak dan tersingkir, namun sampai hari ini, masih sangat diminati oleh penontonnya. Survey menunjukkan, masih ada sekitar 40.000.000 dari sekitar 220.000.000 orang Indonesia, dikatagorikan sebagai “penikmat wayang”.  Simbul-simbul yang ditawarkan pada setiap pertunjukan wayang telah memukau penontonnya, karena simbul-simbul itu adalah bayang-bayang kehidupan mereka sehari-hari. Mereka bisa bergembira dan tertawa terbahak-bahak, namun mereka juga bisa sedih berlinang air mata bersama bayangannya. Perasaan, harapan, cita-cita penonton terpampang didepan mata, sehingga mereka mampu bertahan  dari pukul 21:00  sampai dengan 04:00 pagi. Seperti halnya surat kabat Nikkei, yang telah menjadi forum dialog diantara para pemangku kepentingan (steackholder), termasuk para pembacanya, demikian juga wayang. Selama tujuh jam tak henti-hentinya dialog berlangsung. Semalam suntuk, tiga kelompok pemangku kepentingan (steackholder), yaitu Penyelenggara, Penonton dan Ki Dalang beserta crew, melakukan dialog yang mencerdaskan dan menghibur.  Saya sebagai Dalang, yang adalah salah satu pemangku kepentingan, haruslah dapat bersikap jujur, independent dan adil terhadap semua isu yang didialogkan.

Para hadirin sekalian.

Sebagai anak tertua dari keluarga dalang, sejak kanak-kanak saya telah dididik dengan keras untuk memutuskan sebuah sikap. Perlu kami sampaikan, bahwa ayah saya, kekek saya, kakek buyut saya dan seterusnya, adalah Dalang Wayang Kulit Purwa. Sejak berumur 10 tahun, saya mencoba berani bersikap untuk memutuskan jalan hidup saya dengan menjadi Dalang. Dengan caranya, ayah dan ibu saya, menghormati keputusan saya itu. Sejak itu, saya selalu diberi kesempatan untuk men-dalang, walau tidak harus semalam suntuk. Seingat saya, setelah saya berumur 15 tahun, secara pelan-pelan saya dilepas untuk bisa mendalang tujuh jam secara terus-menerus.
Menginjak usia 17 tahun, ketika saya terlalu bergembira karena  untuk pertama kalinya menerima upah menggelar wayang, ayahku, yang sering dipanggil dengan mBah Brahim, berkata dengan serius: “Jangan terlalu gembira dengan uang yang kamu peroleh, agar tidak sesat!”  Saya terkejut dan ingin protes, tetapi ayah telah berlalu dari hadapanku. Aku sungguh bingung dan tidak tahu apa yang harus kelakukan. Tiba-tiba ada suara lembut memanggil: “Le (Manteb), kesinilah cah bagus!”. Aku kenal betul suara itu, dan sesungguhnyalah, aku sangat merindukannya. Ketika menoleh, kulihat senyum ibuku ikut menyapa. Aku datang dengan lesu, tetapi dia menjemputku dengan kasih yang meneguhkan. Dari ibu, secara pelan-pelan aku tahu, bahwa ayah bundaku sangat mencintaiku. Wujud cinta, ternyata tidak selalu manis. Ada kalanya cinta terasa pahit dan rasa manis justru bisa menyesatkan. Dengan caranya masing-masing, ayah-bundaku, guru-guruku, pengalamanku, suasana alam disekitarku,  telah mengajarkan tentang sikap sejati-jatinya Dalang, yaitu “Kemampuan mengendalikan diri” dan “Menjadi berkat bagi sesama”. Semakin tua umurku, semakin aku mengerti dan menjunjung tinggi kata-kata ayahku tersebut diatas. Seandainya ayahku tidak berkata: “Jangan terlalu gembira dengan uang yang kamu peroleh, agar tidak sesat,” saya bisa memastikan, bahwa saya tidak mungkin menerima anugerah dari Surat Kabar Nikkei. Dan apa bila itu tidak terjadi, mana mungkin saya bisa bergaul dengan bapak, ibu dan saudara-saudara sekalian, tokoh-totoh terpilih dari Negeri Samurai yang istimewa ini.

Bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara-saudari yang saya hormati,

Pada hari Jumat, 4 Desember 2009, Perdana Menteri Yukio Hatoyama memberikan kesempatan wawancara khusus kepada wartawan surat kabas Kompas dan Metro TV dari Indonesia diruang kerjanya di Tokyo, selama setengah jam, menjelang kedatangannya di Forum Demokrasi Bali pada 16-11 Desember 2009. Beliau berceritera tentang teman sekolahnya se SMA di Jepang. Ketika para wartawan itu bertanya: “Boleh tahu, siapa teman Indonesia Anda itu?, Yang Mulia Perdana Menteri menjawab: “Ia bernama Agus, teman sekelas di SMA saya di Jepang. Selama tiga tahun kami beraktivitas bersama, dikelas yang sama. Di kelas, ia dikenal paling cepat larinya dan paling pintar main sepak bola. Maka waktu itu ia dipandang sebagai hero oleh teman-temannya sekelas ……”
Ketika membaca berita itu, hati saya berkata: “Betapa bahagianya bila ada wartawan yang bertanya kepada Yang Mulia Perdana Menteri Yukio Hatoyama tentang kawannya dari Indonesia, dan beliau menjawab: “Kawan saya tidak hanya Agus, tetapi masih ada satu lagi, yaitu Manteb Soedharsono. Walau tidak bisa bermain sepak bola, tetapi di bisa menjadi Dalang Wayang Kulit Purwa.”

Sahabat-sahabatku yang baik,

Akhirnya, sekali lagi kami sampaikan terima kasih kepada Surat Kabar Nikkei atas anugerah dan kesempatan yang indah ini. Kami mohon maaf bila ada kata dan tingkah laku yang tidak berkenan.
Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Perwakilan Nikkei di Indonesia, yang telah bersusah payah menseleksi dan memilih Dalang yang sesuai dengan makna pemberian penghargaan.
Dalam kesempatan ini, perkenankanlah saya bicara kepada ayah-bundaku yang telah almarhum. “Bapak lan Simbok, matur nuwun ingkang tanpa upami. Tanpa panjenengan jampangi, tangeh kula saged pikantuk kanugrahan ingkang semanten agengipin.”
Terima kasih, juga kami sampaikan kepada Mbak Ade, Mbak Hiromi Kano, bapak Ryo Matsumoto, dan pak Sudarko Prawiroyudo, yang telah memberikan semangat, jalan dan bantuan tanpa pamrih, sehingga peristiwa bersejarah ini dapat terjadi.
Kepada isteriku tercinta, Erni, saya menyampaikan terima kasih. Mari kita bergandeng tangan, mengemban makna penghargaan ini, agar jagad bisa kembali tersenyum.
Para hadirin semua, kami hanya bisa menyampaikan terima kasih, dan hanya Tuhan yang bisa membalas jasa kebaikan bapak, ibu dan saudara-saudara sekalian.

Perkenankanlah saya mengundurkan diri - Arigato, arigato, arigato gozaimasu.

TANCEP KAYON.

 

 

Co-Management

PANGLIMA arts management

c.p HONGGGO UTOMO

Hunting: +62 821 4131 9468
+62 85 7080 70 777
Office :  +62 351 438720

E-mail :
honggo.othernight@gmail.com
pang5arts@yahoo.co.id

 

Banner

Testimonial

nina wahyu
Date: May 14, 2010


SELAMAT, SEMOGA SUKSES SELALU..
Banner
Banner