Depan | Profil | Berita | Artikel | Nyantrik | Agenda | Testimoni | Galeri Foto | MP3 | Naskah | Buku Tamu | Kontak | Sanggar Bima
Ki Manteb Raih Penghargaan dari Unesco PDF Cetak Surel
Selasa, 11 May 2004 00:00

TEMPO Interaktif, Solo: Beberapa pekan terakhir ini, dalang wayang kulit kondang asal Karanganyar, Ki H. Manteb Soedharsono sibuk mempersiapkan diri untuk pementasan di markas besar Unesco -lembaga pendidikan dan kebudayaan PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa)- di Paris, Perancis. Pementasan yang akan dilakukan pada 21 April 2004, itu merupakan bagian dari pemberian penghargaan Unesco Award. Ki Manteb Soedharsono sendiri terpilih sebagai penerima penghargaan dari Unesco, dengan menyisihkan 28 kontestan dari berbagai negara.

"Dari hasil penilaian, Unesco mengukuhkan wayang kulit sebagai warisan budaya dunia yang harus dilestarikan dan dikenal dunia dan saya diminta untuk menerima penghargaan itu," kata Ki Manteb. Penilaian Unesco itu dilakukan sejak dua tahun lalu, saat menyeleksi warisan budaya dunia, dan saat itulah Ki Manteb diminta Pepadi (Persatuan Pedalangan Indonesia) untuk mengikuti seleksi. Selain wayang kulit, seni budaya dari Indonesia yang juga mengikuti penilaian adalah Wayang Golek, Wayang Banjar, Wayang Sasak dan Wayang Bali yang dimainkan oleh dalang masing-masing daerah. Dari 138 kontestan, Unesco akhirnya meloloskan 28 negara. Hingga kemudian, wayang kulit dengan lakon Dasamuka Lena yang dibawakan Ki Manteb Soedharsonolah yang keluar sebagai penerima penghargaan utama Unesco Award.

Rencananya, untuk pementasan itu, Ki Manteb membawa rombongan sebanyak 14 orang: penabuh gamelan dan sinden yang akan berangkat ke Paris pada 14 April 2004. Menurut dalang yang mempunyai hobi bersepeda motor kuno ini, dirinya memang diminta untuk menunjukkan kebolehan mendalang di hadapan duta besar Unseco, petinggi PBB lainnya dan para undangan lain dari utusan berbagai negara.

Tapi, selain mentas pada perhelatan Unesco itu, Ki Manteb juga diminta berkeliling untuk memamerkan kebolehan mendalangnya di sejumlah negara Eropa, seperti Jerman, Swiss dan Italia, hingga 5 Mei 2004. Untuk itulah, dirinya sudah menyiapkan tiga lakon: Begawan Ciptoning (45 menit), Sesaji Raja Suya (60 menit) dan Dasamuka Lena (90 menit). "Tinggal mana yang dipilih masyarakat disana," kata Ki Manteb.

Lakon Dasamuka Lena yang mengantarkan sukses itu, kata Ki Manteb, mempunyai kekuatan pada sisi filosofi. Dasamuka Lena bercerita tentang tokoh jahat Dasamuka yang tidak bisa mati walau sudah sekarat terkena panah sakti Rama Wijaya dan digencet gunung oleh Hanoman. "Dihadapan tim penilai Unesco, saya ditanya maksudnya. Saya ceritakan, Dasamuka adalah ibarat nafsu manusia yang tidak akan mati jika manusianya memang tidak punya keinginan untuk menahan nafsunya sendiri. Nafsu akan tetap hidup selama manusia justru menghamba pada nafsunya," kata Ki Manteb.

Ki Manteb sendiri mengaku sangat bangga terhadap penghargaan tertinggi di bidang kebudayaan itu. Tapi, dirinya menyatakan, penghargaan yang diberikan Unesco itu bukan untuk dirinya, melainkan untuk seni wayang kulit. "Kita harus bangga, wayang kulit telah mendapat pengakuan tertinggi dari Unesco," katanya.

Anas Syahirul - Tempo News Room

 

Co-Management

PANGLIMA arts management

c.p HONGGGO UTOMO

Hunting: +62 821 4131 9468
+62 85 7080 70 777
Office :  +62 351 438720

E-mail :
honggo.othernight@gmail.com
pang5arts@yahoo.co.id

 

Banner

Agenda

There are no events at this time

Testimonial

nina wahyu
Date: May 14, 2010


SELAMAT, SEMOGA SUKSES SELALU..
Banner
Banner